Selasa, 11 Oktober 2022

Bila saja...

Kalau saja...

adalah kata-kata yang sering kita ucapkan,

jika waktu dapat diputar kembali,

dan kita bisa mengulangi peristiwa yang telah terjadi,

tahu apa yang harus kita perbaiki,

ketimbang sekedar mengulangi.


Namun waktu,

akan terus berjalan maju tiada berhenti,

sekeras apapun kita mencoba kembali,

ia tak akan pernah mengulangi,

perjalanan yang pernah ditempuh untuk kedua kali.


Mensyukuri hari ini,

adalah kesempatan untuk memperbaiki diri,

agar masa depan jadi harapan,

dan bukannya lembah penyesalan.


(karena hidup bukan untuk masa lalu, kenangannya menjadi pembelajaran untuk hari ini dan esok).


Kamis, 06 September 2018

Melayani...

Melayani...
Adalah sebuah anugerah,
Sebuah kesempatan,
Untuk meresponi kasih-Nya...
Bukan sekedar kebanggaan,
Ataukah prestasi dan pencitraan,
Namun hanya pengabdian dan penyerahan,
Yang membawa nurani...
Kembali pada panggilan kasih...
Mengikuti jejak semula yang terpatri,
Pada jalan penyangkalan diri..
Dan aku disini sekali lagi...
Dengan kesempatan yang Ia beri...
Aku melayani-Nya, bukan diri sendiri.
Karena aku yang melayani ego pribadi telah mati...
Dan Ia membangkitkan aku untuk merendahkan diri...

Aku melayani, karena kasih...

(Karena seringkali kasih tidak lagi menjadi bagian dari pelayanan kita hari ini...)


Sabtu, 26 Maret 2016

tanpa judul

Kadang aku begitu sedih dengan kehidupan...
orang bisa jadi begitu egois dan menusuk dari belakang...
ternyata senyuman bisa jadi topeng kejahatan, bukan lagi wajah asli ketulusan...
dan kita tak lagi bisa turut tersenyum dengannya...
tak bisa pula menutup mata dan membiarkannya keterusan...
aku ingin berteriak: Hentikan! Hentikan! Hentikan!
namun terdengar sumbang di telinga banyak orang...
yang menatapku dengan pandangan aneh, seolah teriakanku itu...
bertentangan dengan jalan kehidupan...
Dan hitam membawa kegelapan ke taman bermain,
ia mencoba membunuh kehidupan...
menyeringai ia tersenyum penuh kelicikan,
aku tusuk kau dari belakang...tidak, dari depan saja....
dan ketika kebenaran berhasil dibungkamnya.
Merdeka mati dan tirani bangkit....
namun mereka lupa itu hanya sementara...
sayup-sayup ku dengar suara bernyanyi:
kehidupan mungkin bisa mati, tapi kebenaran akan tetap hidup selamanya.

(tulisan yang tertunda setahun lebih...)

Jumat, 25 Maret 2016

Golgota...

Saya mencoba membayangkan kembali apa yang terjadi di bukit Golgota itu. Ada jeritan, tangis, cemooh dan caci maki dari orang-orang, juga tawa bahagia dari sekelompok orang yang puas karena berpikir rencana mereka sudah berhasil. Sementara di Sorga, para malaikat terdiam, namun tetap waspada, menyadari bahwa yang terjadi di bukit Golgota itu adalah bagian dari rencana Allah untuk membebaskan manusia, walau teramat pahit.

Dan ketika saya membayangkan kayu salib dimana Yesus terpaku atasnya, saya turut terdiam melihat kepala yang bermahkota duri, darah yang menetes disekujur tubuh, dan kesakitan meregang nyawa. Saya tak bisa membayangkan kesakitan yang lebih dari itu. Bukan sekedar sakit karena luka akibat siksaan, tapi juga sakit yang ditanggung karena penolakan manusia kepada keselamatan. Di bukit itu saya menyaksikan keegoisan manusia yang dengan sadar mengabaikan kenyataan bahwa mereka telah membunuh Tuhannya sendiri.

Kembali ke zaman ini, dua ribu tahun lebih telah berlalu. Golgota mungkin hanya tinggal kenangan. Tempatnya mungkin hanya menjadi lokasi sejarah yang dikunjungi banyak orang. Kini, bermunculan Golgota-golgota yang baru, bukan secara lahiriah, tapi secara batiniah. Bukan Golgota yang menjadi saksi keselamatan yang dikerjakan Allah dalam diri Yesus yang tersalib, tapi Golgota yang menjadi saksi keegoisan manusia yang hari ini terus bertumbuh dengan subur, dan dengan kesadaran yang penuh manusia berusaha menyalibkan Yesus untuk kesekian kalinya.

Dan mungkin saya termasuk golongan orang-orang yang berusaha menyalibkan-Nya untuk kesekian kalinya. Mungkin saya termasuk mereka yang menganggap Yesus harus mati lagi, lagi, dan lagi, untuk membuat kami jadi lebih berharga hari ini. Atau mungkin saya ingin menyalibkan-Nya lagi karena saya sesungguhnya adalah golongan Imam Kepala dan orang Farisi yang dianggap mengerti Hukum, yang selalu berpikir bahwa kami lebih baik dari kebanyakan orang, sehingga kami dapat menuduh orang yang berdosa. Mungkin saja, saya adalah golongan orang yang lebih mudah melihat selumbar di mata orang lain ketimbang balok di mata sendiri, sehingga saya seperti orang yang ada di menara gading kebenaran, sementara orang lain ada di lembah penuh kesalahan.

Mungkin Golgota kebanyakan orang hari ini, bukanlah tempat kengerian dan hukuman, yang sekaligus menjadi tempat Allah menunjukkan konsistensinya untuk mengasihi manusia berdosa. Mungkin Golgota kebanyakan orang hari ini, adalah tempat dimana kayu salib digantikan dengan kemapanan dan keinginan untuk memperkaya lahiriah manusia ketimbang batiniahnya. Kemapanan yang membuat manusia enggan untuk memikirkan penderitaan dan konsekuensi mengikut Yesus. Kemapanan yang membuat manusia terbuai dalam zona amannya, sehingga mulai menilai segala sesuatu dari perspektif dunia. Kemapanan yang membuat manusia kehilangan kepekaan akan hadirat Tuhan, dan mulai mempertanyakan kebenaran Allah dan semakin permisif dengan kebenaran versi dunia. Kemapanan yang membuat Yesus tidak lagi populer bagi para pengikut-Nya. Kemapanan yang membuat kerohanian menjadi barang usang, dan percaya kepada Tuhan tergantung "sinyal dan kondisi jaringan".

Saya tidak ingin Golgota saya menjadi seperti itu. Saya ingin seperti Maria, Yohanes, dan orang-orang lainnya, yang berani berdiri di garis depan menghadapi cemoohan orang-orang terhadap Yesus. Saya ingin meneladani Yesus yang tidak membalas cacian dengan cacian, makian dengan makian, hinaan dengan hinaan. Saya ingin seperti Yesus yang dengan rendah hati mengampuni orang-orang yang berbuat jahat kepada-Nya, sekalipun Ia ada dalam keadaan kesakitan. Saya ingin Golgota mula-mula itu, tetap menjaga dan mengingatkan saya, bahwa hidup saya hari ini ada karena anugerah Allah yang mengalir di Golgota.

Golgota juga kiranya mengingatkan saya bahwa kebaikan dapat membuahkan penolakan. Tapi, kasih tak pernah gagal. Golgota menunjukkan kemenangan kasih atas kegagalan manusia mencerna kebaikan Allah. Golgota mengingatkan saya bahwa Tuhan tak pernah menyerah atas manusia, termasuk diri saya, berapapun banyaknya usaha saya untuk menjauh daripada-Nya.

(Terima kasih Tuhan, untuk kayu salib, untuk Golgota. Tanpa itu hidup saya tak akan berbeda).

Selasa, 03 November 2015

Just You

Di hari ini...
Tak cukup kata yang terucap
Hanya ada syukur yang tak terkira
Dalam suka ataupun duka
Dia tak pernah berubah setia
Selalu peduli dan tak kenal menyerah
Meraih diriku dalam naungan-Nya
Di hari ini...
Aku tak ingin yg lain...
Aku hanya ingin diri-Mu
Aku hanya ingin Yesus
Tetap menjadi pusat hidupku

Kamis, 09 April 2015

Just another thought

Dahaga hanya dapat dipuaskan ketika kita minum, bukan makan...

Kantuk hanya dapat dihilangkan ketika kita tidur, bukan begadang...

Dosa hanya dapat dihapus oleh kematian yang menghidupkan, bukan oleh kehidupan yang mematikan...

Minggu, 15 Februari 2015

Just thought

Otentik itu sesuatu yg natural, alamiah, gak pake pencitraan, gak perlu tanggapan like or dislike...

Otentik itu mengalir keluar dari dlm diri...

Apakah kamu otentik?

Selasa, 30 Desember 2014

2 things...

Malam ini saya teringat dua hal yang pernah saya bagikan kepada seorang rekan pemuda beberapa bulan yang lalu.

Dua hal itu berkaitan dengan bagaimana cara kita menghadapi perkataan dan sikap yang tidak menyenangkan terhadap diri kita.

Dua hal itu adalah:
1. No hard feeling.
2. Don't take it too personally.

Kedua hal tersebut akan menjadi PR harian kita di dalam menjalani kehidupan.

Terkadang kita memang tergoda untuk menanggapi dan membalas apa yang orang katakan atau lakukan terhadap kita. Di sisi lain kita mungkin kurang memikirkan ataupun meresponi apa yang Allah katakan tentang kita.

Kadang Allah dapat memakai orang lain untuk mengatakan apa yang sebenarnya Ia inginkan dari kita, sehingga perkataan atau tindakan orang lain dapat menjadi bahan introspeksi diri.

Kadang juga Allah memakainya untuk membentuk kita jadi makin tahan uji dan tetap setia melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, sekalipun ada banyak penentang.

Untuk itu:
1. Jika kita telah mengatakan dan melakukan apa yang benar, mengapa kita harus marah kepada orang yang berkomentar dan berlaku tidak baik kepada kita?

2. Jika kita ternyata salah, maka kita tidak pantas untuk marah. Justru seharusnya memperbaiki diri.

3. Tidak ada yang mudah dalam hidup. Masa-masa bergumul dengan sesama adalah sebuah proses yang melatih kepribadian dan karakter kita. Nikmatilah pahitnya karena akan berakhir manis di tangan Allah.

(Bukankah Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Dia?)

Senin, 29 Desember 2014

Just thought...

Ketika pelayanan hanya sekedar aktivitas, mungkin ada sesuatu di dalamnya yang mati.

Sekali lagi tentang Natal

Nampaknya tidak semua orang dapat menikmati masa Natal tahun ini. Paling tidak beberapa orang berkata kepada saya bahwa mereka tidak mendapatkan apa-apa dalam ibadah Natal tahun ini.

Mungkin kita akan cenderung menanyakan sekaligus menyalahkan, apakah acaranya? Musiknya? Yang pimpin pujiannya? Atau bingkisannya?

Terlepas dari semua itu, pertanyaan berikut ini mungkin sering ditanyakan tapi jarang direnungkan dengan sungguh-sungguh: bagaimana persiapan pribadi kita menyambut Natal? Apakah dimulai dengan aktivitas belaka atau beriringan dengan hal yang spiritual?

Cara kita menyambut Natal akan menunjukkan apakah Natal masih punya arti dalam hidup kita sebagai orang percaya.

Natal dimulai bukan dengan apa yang kita dapatkan, tapi dengan apa yang Allah berikan. Tanpa Allah memberikan, maka kita tidak akan mendapat apapun.

Hanya saja, ada orang yang menganggap bahwa mereka layak mendapatkan yang lebih. Ketika yang diharap tidak terwujud maka akan muncul komentar dan gosip. Akhirnya, kepahitan muncul dan mengakar.

Kalau mau jujur, mungkin kita tidak sedang merayakan Yesus. Kita sedang merayakan kemampuan kita ataupun ketidakmampuan orang lain menyiapkan acara yang bagus dan dapat dikenang lama.

Yang tidak terlibat dalam kepanitiaan akan mengomentari panitianya...demikian sebaliknya jika kepanitiaan berganti di event berikutnya.

Orientasinya bagaimana memuaskan jemaat yang hadir, bukannya bagaimana menolong jemaat yang hadir memuaskan hati Allah.

Natal seolah tidak lagi spiritual, hanya kulitnya, tapi di dalamnya di penuhi aktivitas demi aktivitas...sudah terlalu lama kita membaliknya seperti itu...sehingga, jenuh...capek...gak mau jadi panitia atau pelayan Natal lagi, jadi curhat rutin setiap tahun.

Kalau gitu Natal untuk apa dan siapa sih sebenarnya jika kita merasa seperti itu?

(Kita perlu belajar kembali kepada kesederhanaan Natal ditengah glamournya perayaan dunia - bahkan gereja - saat ini).

Sekali lagi tentang Natal

Nampaknya tidak semua orang dapat menikmati masa Natal tahun ini. Paling tidak beberapa orang berkata kepada saya bahwa mereka tidak mendapatkan apa-apa dalam ibadah Natal tahun ini.

Mungkin kita akan cenderung menanyakan sekaligus menyalahkan, apakah acaranya? Musiknya? Yang pimpin pujiannya? Atau bingkisannya?

Terlepas dari semua itu, pertanyaan berikut ini mungkin sering ditanyakan tapi jarang direnungkan dengan sungguh-sungguh: bagaimana persiapan pribadi kita menyambut Natal? Apakah dimulai dengan aktivitas belaka atau beriringan dengan hal yang spiritual?

Cara kita menyambut Natal akan menunjukkan apakah Natal masih punya arti dalam hidup kita sebagai orang percaya.

Natal dimulai bukan dengan apa yang kita dapatkan, tapi dengan apa yang Allah berikan. Tanpa Allah memberikan, maka kita tidak akan mendapat apapun.

Hanya saja, ada orang yang menganggap bahwa mereka layak mendapatkan yang lebih. Ketika yang diharap tidak terwujud maka akan muncul komentar dan gosip. Akhirnya, kepahitan muncul dan mengakar.

Kalau mau jujur, mungkin kita tidak sedang merayakan Yesus. Kita sedang merayakan kemampuan kita ataupun ketidakmampuan orang lain menyiapkan acara yang bagus dan dapat dikenang lama.

Yang tidak terlibat dalam kepanitiaan akan mengomentari panitianya...demikian sebaliknya jika kepanitiaan berganti di event berikutnya.

Orientasinya bagaimana memuaskan jemaat yang hadir, bukannya bagaimana menolong jemaat yang hadir memuaskan hati Allah.

Natal seolah tidak lagi spiritual, hanya kulitnya, tapi di dalamnya di penuhi aktivitas demi aktivitas...sudah terlalu lama kita membaliknya seperti itu...sehingga, jenuh...capek...gak mau jadi panitia atau pelayan Natal lagi, jadi curhat rutin setiap tahun.

Kalau gitu Natal untuk apa dan siapa sih sebenarnya jika kita merasa seperti itu?

(Kita perlu belajar kembali kepada kesederhanaan Natal ditengah glamournya perayaan dunia - bahkan gereja - saat ini).

Jumat, 19 Desember 2014

Unexpected people

Mereka hanyalah sekumpulan orang yang tak pernah diharapkan ada sebelumnya.

Mereka dipandang sebelah mata dan tak dianggap keberadaannya.

Mereka diam dalam sunyi namun bekerja dengan hati dan itu mengubah suasana hari.

Mereka terbang memutari bumi
Dengan sayapnya yang putih
Memberi bukti bukan janji
Memberi rasa bukan iri

Mereka yang tak diharapkan ini
Telah menjadi pembawa harapan
Menggugah hati...
Menggugah nurani...

Sesungguhnya kehidupan memulai petualangannya sewaktu meresponi panggilan ilahi...

Kamis, 18 Desember 2014

Christmas without Jesus

Dan bulan Desember tiba...sekali lagi...dan kita bersibuk ria mempersiapkan acara Natal 'terbaik' yg bisa kita tawarkan kepada jemaat.

Dan kesibukan itu menyita banyak sekali waktu kita, sehingga kita tak menyadari bhw Yesus telah kita tinggalkan dan kita gantikan dengan segala macam perayaan yg gegap gempita.

Semua kesibukan itu terkadang bukan untuk Tuhan, tapi untuk eksistensi kita, entah sebagai rohaniwan, majelis, pengurus ataupun aktivis. Yesus tidak lagi menjadi fokus perayaannya. Yesus hanya menjadi sekedar hiasannya.

Padahal dulu Ia datang dalam kesederhanaan, tanpa program yang menargetkan berapa banyak orang yang akan hadir dan acara apa yang akan dibuat supaya orang tertarik untuk hadir.

Kala itu yang hadir hanyalah sekelompok kecil gembala, dan acara tunggalnya adalah menyembah sang Raja dalam suasana yang dipenuhi kehangatan. Ada pengharapan yang semakin besar di sana. Pengharapan yang mereka juga bagikan kepada sesama.

Kemudian ada sekelompok majus yang menempuh perjalanan amat jauh untuk mengalami sukacita yang penuh. Letih karena perjalanan jauh menemukan tempat untuk jiwa berteduh.

Natal bukan bicara tentang siapa saya dan kamu. Natal bicara tentang Yesus. Natal bicara tentang pengharapan, sukacita, dan keselamatan.

Natal adalah Yesus.
Mari kita merayakan Yesus.
Disitu kita akan menjumpainya...

(Dan tak ada kata-kata yang cukup pantas menggambarkan keindahan perjumpaan dengan sang Juruselamat itu)

Jumat, 24 Oktober 2014

Passion

Seorang rekan pernah membaca sebuah buku yang mendefinisikan passion sebagai 'something to die for'.

Passion yang dimiliki seseorang akan membuatnya bersedia memperjuangkan sesuatu kalau perlu sampai mati.

Dalam film chef, carl rela mengorbankan banyak hal untuk memperjuangkan passion-nya sebagai seorang koki. Baginya memasak adalah semacam jembatan untuk komunikasi hati dengan orang-orang yang menyantap makanannya. Ketika passionnya tidak tersalurkan maka ia kehilangan makna dari apa yang ia kerjakan sebagai seorang koki. Beruntungnya, dipecatnya Carl sebagai kepala koki membuatnya dapat mengerjakan passionnya yang sesungguhnya.

Passion membuat seseorang dapat mengerjakan sesuatu dengan penuh semangat dan cinta, kerelaan untuk berkorban dan berjuang sampai tetes darah penghabisan.

Kadang-kadang rutinitas dan kesibukan dapat mengaburkan passion kita sesungguhnya di hadapan Tuhan. Ketika hal ini terjadi kita perlu berdiam diri dan merefleksikan hidup kita kembali.

Pertanyaannya adalah:
Apakah passionku hari ini adalah mengerjakan apa yang Ia telah percayakan kepadaku? Ataukah sekedar mengerjakan apa yang aku sukai?

Mintalah kepada Tuhan supaya passion bukan cuma sekedar desire atau hasrat belaka...

Passion yang sejati pada akhirnya akan berorientasi bukan kepada kepuasan kita sebagai pelaku dari passion itu tapi kepada Tuhan sebagai pemberi passion yang sejati.

Selasa, 14 Oktober 2014

bertolaklah ke tempat yang lebih dalam...

"Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
(Lukas 5:4)

Apa yang kita rasakan, ketika kita sudah melakukan sesuatu tanpa hasil apapun, lalu kita diminta untuk melakukan hal yang sama lagi. Jengkel? Kesal? Mungkin...Begitulah yang dirasakan Simon kala itu. Sudah sepanjang malam ia dan saudaranya bekerja keras untuk menangkap ikan, tapi mereka tidak menangkap apapun juga (v.5).

Tapi rasa sungkannya kepada Yesus membuatnya melakukan apa yang Yesus minta sekalipun nampaknya tidak masuk akal. Simon adalah nelayan profesional, dan Yesus sebelumnya dikenal sebagai tukang kayu profesional (mengikuti jejak ayahnya, Yusuf). Secara logika, maka Simon tentu lebih mengerti tentang kapan dan dimana ikan-ikan berkumpul. Saya membayangkan Simon berpikir dalam benaknya, kalau dia saja yang nelayan profesional tidak bisa menemukan seekor ikan pun apalagi Yesus yang tidak punya kompetensi sebagai nelayan.

Permintaan Yesus supaya Simon membawa perahunya ke perairan yang dalam dan menebarkan jala adalah sebuah permintaan yang sepertinya "mengolok-olok" Simon dan kemampuannya sebagai seorang nelayan. Tapi ketika Simon menuruti apa yang dikatakan Yesus, maka terjadilah mujizat.

Kadang-kadang kita juga mungkin diminta melakukan hal yang sama seperti Simon. Kita sudah melakukan sesuatu dengan kerja keras, tapi yang kita lakukan tidak mendatangkan hasil apapun. Lalu kita diminta lagi melakukan hal yang sama. Pertanyaannya, apakah kita akan melakukannya lagi, lagi, ... dan lagi?

"Bertolaklah ke tempat yang dalam" mungkin bisa juga dimengerti sebagai berikut:

* tempat yang dalam bisa jadi adalah sebuah tempat beradanya hal-hal yang sulit - a place of difficult things - sebuah tempat dimana masalah dan pergumulan bisa jadi akan lebih besar dari sebelumnya.

*sebuah undangan untuk percaya sepenuhnya kepada Tuhan. To trust Him is to give Him our fully trust.

*a place that we can see more about God and His plans for us - sebuah tempat dimana kita dapat lebih melihat dan mengalami siapakah Allah dan apa rencana-Nya bagi kita

kadang-kadang yang kita butuhkan hanyalah tempat yang dalam, supaya melaluinya:

* kehampaan menjadi kepenuhan/kelimpahan.
* keraguan menjadi keyakinan.
* ketidakpercayaan menjadi pengakuan.

"bertolaklah ke tempat yang dalam" adalah zona pembentukan Allah supaya kita dapat dipersiapkan untuk sebuah tugas yang sudah Ia rencanakan bagi kita (v.10, bd. dengan Efesus 2:10).

(if everything starting to hard to do, maybe it's time to put out into the deep and let Him to take full control...)

Rabu, 01 Oktober 2014

Putih

Putih,
Itulah warnaku...
Itulah hatiku...

Biru,
Itulah mimpiku...
Itulah harapku...

Ketika putih dan biru menyatu...
Mimpiku jadi penuh warna
Dan hatiku jadi penuh harap
Putih...seputih awan
Biru...sebiru langit cerah
Ada putih ada biru
Ada aku dan ada kamu
Ada kita...
Ada cerita...

*warna lain turut diundang ke pesta...

Selasa, 30 September 2014

aku untuk kamu, kamu untuk aku

aku ada untuk dirimu
kamu ada untuk diriku
meski kita sering berbeda
dan memilih jalan yang tak sama
aku tak bisa berpaling
kamupun tak bisa 
karena aku untuk kamu
dan kamu untuk aku
kita berdua diciptakan untuk satu...

maka, ceritakanlah isi hatimu padaku
menangislah dibahuku
tertawalah bersama denganku
berbagilah suka dan dukamu denganku

maka, beban berat itu akan meringan
seringan kapas yang terbang melayang
karena aku mau ikut menanggungnya
jika kau izinkan...

meski, aku tak sempurna
mungkin kataku dapat menyakiti perasaanmu
dan membuat langkah kakimu tersandung

namun, aku tetap untukmu
dan kau untukku
aku membuka hatiku menyambut dirimu...
maka, ulurkanlah tanganmu kepadaku
dan sentuhlah hatiku,...
seperti aku menyentuh hatimu
dan mengisinya dengan kasih...

aku untuk kamu dan kamu untuk aku
bukan lagi kata orang...
tapi kata kita...
dan kita ada untuk menceritakan kisahnya
kepada dunia

*komunitas adalah tempat berbagi dan menjadi manusia seutuhnya...

Bahagia yang sejati...

...korekara wa boku mo todokete ikitai...
...hontou no shiawase no imi o mitsuketakara...

banyak orang bingung dan berusaha mencari apa itu bahagia yang sejati...
buat saya, bahagia yang sejati itu simple, bahagia yang sejati itu:
  1. Bahagia karena Allah di dalam dan melalui Tuhan Yesus telah menebus saya dan menjadikan saya anak-Nya.
  2. Bahagia karena Allah memberikan keluarga dan rekan-rekan yang baik untuk kehidupan dan pertumbuhan rohani saya.
  3. Bahagia yang muncul ketika bisa tetap bersyukur sekalipun dalam keadaan yang susah, bahkan ketika diberikan kesempatan untuk berbagi dalam keadaan yang susah itu.
  4. Bahagia yang muncul ketika melihat orang berdosa bertobat dan diubahkan hidupnya oleh Tuhan.
  5. Bahagia yang muncul ketika saya dapat meresponi panggilan-Nya bagi saya dengan setia sampai akhir.
Bahagia yang sejati itu bahagia yang muncul karena kamu tahu siapa yang bisa memberimu bahagia yang sesungguhnya, dan ketika kamu membagikannya kepada orang lain juga.
bahagiaku, bahagiamu, bahagia kita...

*guys, jangan ragu untuk bahagia...